Qudwatun Hasanah
Nabi Muhammad adalah makhluk yang pertama kali diciptakan langsung dari Nur Dzat Yang Maha Kuasa. Beliau adalah rahmat al-mahdhah (rahmat kasih sayang Allah yang di hamparkan untuk seluruh hamba-Nya). Akan sangat indah apabila rahmat tersebut disambut dengan kasih sayang yang penuh dengan kecintaan yang tulus pada sang Kholiq, yang direalisasikan dengan mengikuti jejak dan tuntunan beliau sebagai bukti atas keimanan yang haqiqi. Dalam surat Ali Imran, ayat 31 Allah menegaskan:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ. [آل عمران/31]
“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Dalam sebuah hadits juga diterangkan: “Barang siapa yang cinta padaku maka dia telah cinta pada Allah dan barang siapa yang patuh kepadaku maka dia telah patuh kepada Allah.”
Dari keterangan di atas dapatlah kita simpulkan bahwa cinta kepada Rasullullah menjadi tolok ukur kecintaan seorang hamba kepada Allah .
Dr. Muhammad Abduh al-Yamany mengatakan : “Belum sempurna iman Seorang mukmin dan ia tidak akan merasakan lezat dan manisnya iman kecuali Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai melebihi segala-galanya.” Maka dari itu, seyogyanyalah seorang hamba untuk menanamkan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya , serta kecintaan kepada keluarga dan shahabat-shahabat Rasulullah . Sebagai orang tua atau seorang guru yang memperjuangkan agama Allah tentu sangat arif dan bijaksana apabila kita mempunyai inisiatif untuk memikirkan masa depan anak-anak kita sebagai generasi penerus perjuangan kita dengan cara mengenalkan dan menanamkan kecintaan anak-anak kita kepada Rasulullah . Hal itu bisa kita lakukan dengan cara mengenalkan pribadi Rasulullah kepada anak-anak kita, menyambut dan memeriahkan hari kelahiran Rasulullah (bulan Robi’ul awal) dengan penuh kebahagiaan, dengan diisi pembacaan al-Qur’an, pembacaan sholawat, serta mengenalkan sejarah (biografi) tentang keagungan, kemulyaan, kesabaran, ketabahan serta keberanian Rasulullah dalam memperjuangkan kebenaran dan keagungan agama Islam. Beliau memperjuangkan agama ini dari dasar yang penuh dengan tantangan serta cobaan yang sangat berat. Akan lebih baik lagi dan menjadi suatu keharusan bagi kita untuk selalu memperaktekkan akhlak budi pekerti Rasulullah agar dapat ditiru dan menjadi pegangan dalam mengarungi kehidupan sehari-hari bagi mereka. Sehingga mereka tahu bahwa suri tauladan yang paling sempurna adalah Rasulullah . Allah berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا . (الأحْزَابَ,21
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”
Ketika shahabat Sa’id bin Hisyam bertanya pada Ummul Mukminin Sayyidah A’isyah tentang akhlak Rasulullah?, istri termuda Rasulullah yang juga putri sahabat Abu bakar itu menjawab: “Bukankah kamu sudah membaca Al Qur’an?, begitulah akhlak beliau.” Allah telah menegaskan tentang keagungan budi pekerti Rasulullah melalui firman-Nya dalam surat al-Qolam ayat 4:
وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.”
Para ulama berpendapat bahwa mengenali sejarah-sejarah ulama salafus sholeh, terutama para Nabi dan Rasul khususnya Nabi -karena beliaulah alam semesta ini diciptakan- sangat penting. Hal itu berguna untuk membangkitkan generasi penerus dan menarik perhatian mereka untuk selalu memperjuangkan kejayaan Islam dan membentuk kepribadian yang berazaskan kepribadian Rasulullah . Rasulullah bersabda :
عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ من بَعْدِي تَمَسَّكُوا بِهَا وَعُضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ
“Wajib bagi kalian mengikuti jejak langkahku dan Khulafa’ al-Rosyidin penerusku. Berpeganglah dengannya dengan sekuat mungkin.” [H.R. Imam Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, Imam Turmudzi dan dishohihkan oleh Imam Hakim.]
Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Shahabat Umar, Ali dan abu Darda’ di jelaskan :
اِقْتَدُوْا بِالَّلذِيْنَ مِنْ بَعْدِيْ أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ
“Wahai ummatku Ikutlah kalian terhadap jejak dua orang shahabatku (Shahabat Abu Bakar dan Shahabat Umar) setelah saya meninggal dunia.”
Dari hadits tersebut dapat difahami bahwa umat Rasulullah harus ikut terhadap apa yang di contohkan oleh Rasulullah dan shahabatnya. Karena apa yang dilakukan oleh shahabat, pada hakikatnya adalah sunnah yang telah dikerjakan dan dicontohkan oleh Rasulullah sayyid al-anbiya’ wa al-mursalin.
Sangat beruntung orang-orang yang mempunyai rasa cinta pada Rasulullah , Khulafa’ al-Rosyidin, dan ulama salafus sholeh serta dapat meniru dan mengikuti prilaku mereka yang terpuji. Sebagaimana keterangan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh shahabat Anas , bahwa Rasulullah bersabda :
الْمَرْء مَعَ مَنْ أَحَبَّ
“Seseorang akan dikumpulkan bersama orang yang dicintainya.”
Semoga kita dikaruniai rasa cinta pada mereka dan dikumpulkan bersama mereka. Amin………






