Haramkah Infotainment?
Deskripsi Masalah:
Jika kita amati dewasa ini banyak sekali tayangan televisi yang menyuguhkan berita selebritis. Tiap hari kita disuguhi tayangan infotainment yang ditayangkan oleh berbagai macam stasiun televisi. Isi dari infotainment itupun bermacam-macam. Ada yang mengupas kehidupan pribadi seorang artis. Ada juga yang menampilkan, bahkan menyorot habis-habisan seorang artis yang sedang terganjal suatu kasus. Atau juga mengupas tuntas keidupan artis yang sedang naik daun. Ada juga yang memaparkan kegiatan para artis yang berkaitan dengan isu kemanusiaan dan lain-lain. Pokoknya dalam infotainment kita bisa menjumpai berbagai informasi yang berkaitan dengan selebritis.
Pertanyaan:
a. Apakah kita berdosa apabila menonton infotain-ment yang di dalamnya terdapat unsur ghibah (jawa: ngerasani)?
b. Apakah ada ghibah yang diperbo-lehkan ?
Jawab:
a. Apakah kita berdosa apabila menonton infotainment yang di dalamnya terdapat unsur ghibah ?
Perlu diketahui, bahwa orang yang melakukan ghibah dan orang yang mende-ngarkannya pada dasarnya sama-sama menanggung dosa. Hal itu berdasar pada:
1. Firman Allah swt:
“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ”.
“Hai orang-orang yang beri-man, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjing-kan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging sau-daranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertak-walah kepada Allah. Sesung-guhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (Q.S. Al Hujuraat: 12)
2. Hadits Nabi s.a.w. yang diriwayatkan Imam al-Bukhori:
وَمَنْ اسْتَمَعَ إلَى حَدِيثِ قَوْمٍ وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ صُبَّ فِي أُذُنَيْهِ الْآنُكُ.
“Barang siapa mendengarkan pembicaraan suatu kaum, sedangkan mereka membeci pembicaraan itu, maka akan dicurahkan timah yang meleleh pada telinga orang tersebut (di akherat).”
3. Hadits Nabi s.a.w. yang diriwayatkan Imam al-Baihaqi:
“إِنِّ الله حَرَّمَ مِنْكَ وَاحِدَةً وَحَرَّمَ مِنَ الْمُؤْمِنِ ثَلاَثًا : دَمَّهُ وَمَالَهُ ، وَأَنْ يَظُنَّ بِهِ ظَنَّ السُّوْءِ”
“Sesungguhnya Allah mengha-ramkan darimu satu perkara dan mengharamkan dari orang mukmin tiga perkara: darah-nya, hartanya dan buruk sangka padanya.”
Dalil-dalil diatas me-ngandung kesimpulan bahwa seseorang dilarang untuk melakukan tujuh perkara:
- Dzon (dugaan buruk atau buruk sangka pada orang lain).
- Tajassus (mengintai atau mengejar berita).
- Ghibah (ngerasani) yang diharamkan seperti me-ngungkap aib seseorang dengan segala macam bentuknya (dengan li-san, tulisan, isyarah dan lain-lain atau dengan hati).
- Buhtan (mendustakan orang lain)
- Ifkun (membicarakan sesuatu yang didengar yang belum ada kejelasan).
- Tasmi’ (memperdengarkan perbuatannya untuk mendapat popularitas) dan Riya’ (pamer untuk dipuji).
- Membuka aib sendiri atau orang lain tanpa ada tujuan yang dibenarkan.
Hukum penayangan dan proses infotainment :
- Jika ada unsur-unsur perkara di atas, maka hukum penayangannya adalah Haram.
- Jika tidak ada unsur-unsur tersebut, seperti tahadduts binni’mah (membicarakan kenik-matan yang diberikan Allah Y), sebagai panutan agar diikuti amal kebaikannya dan agar dimanfaatkan karya Ilmiahnya, maka hukum penayangnya diperbolehkan.
Hukum menontonnya:
- Haram, jika panayangannya hukumnya haram (karena setuju dengan kemungkaran), kecuali ada tujuan taghyirul mungkar (mengubah kemungkaran) atau meninggalkan.
- Tidak haram, jika penanyangannya hukumnya tidak haram.
Referensi:
1. Ihya’ Ulum al-Din: I/245
2. Al-Bahr al-Madid: VI/115.
3. Al-Bahr al-Madid: VI/116.
4. Tafsir al-Alusiy: XIX/283.
5. Al-Manhiyyaat: I/18.
6. Ihya’ Ulum al-Din: II/338.
Ibarat:
إحياء علوم الدين - (ج 1 / ص 245)
الثالث: كف السمع عن الإصغاء إلى كل مكروه لأن كل ما حرم قوله حرم الإصغاء إليه ولذلك سوى الله عز وجل بين المستمع وآكل السحت فقال تعالى ” سماعون للكذب أكالون للسحت ” وقال عز وجل ” لولا ينهاهم الربانيون والأحبار عن قولهم الإثم وأكلهم السحت ” فالسكوت على الغيبة حرام وقال تعالى ” إنكم إذاً مثلهم ” ولذلك قال صلى الله عليه وسلم ” المغتاب والمستمع شريكان في الإثم “
“Yang ketiga adalah: menjaga (menutup pendengaran) dari segala sesuatu yang dibenci, karena segala sesuatu yang haram diucapkan juga haram untuk didengarkan. Oleh karena itu Allah swt menyamakan terhadap mus-tami’ (orang yang mende-ngarkan kebohongan) dan orang yang banyak memakan perkara haram. Allah swt berfirman: “Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong, banyak memakan yang haram.”, dan juga berfirman: “Mengapa orang-orang alim mereka, pendeta-pendeta mereka tidak melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram?”. Maka diam (membiarkan saja dan tidak amar ma’ruf nahi munkar sekalipun dengan hatinya ketika tidak mampu) terhadap ghibah adalah haram. Allah swt berfirman: “Sesungguhnya engkau serupa dengan mereka.”, oleh karena itu Rasulullah s.a.w. bersabda: “Al-Mughtab (orang yang membicarakan kejelekan) dan yang mendengarkan sama-sama mendapatkan dosa.”
b. Apakah ada ghibah yang di perbolehkan ?
Ada, bahkan ada yang wajib seperti di bawah ini :
- Mengadukan kedzoliman yang dilakukan seseorang kepada dirinya terhadap orang yang diduga punya kemampuan untuk menghi-langkan atau meringankan penganiayaan orang terse-but.
- Menuturkan seseorang yang melakukan kemungkaran kepada orang yang diduga punya kemampuan untuk dimintai tolong menghilang-kan kemungkaran tersebut.
- Meminta fatwa kepada mufti dengan menyebutkan sese-orang yang mendzoliminya agar tahu hukum dan penyelesaian yang baik.
- Menakut-nakuti atau mengi-ngatkan orang-orang islam dengan menyebutkan cacat / kefasikan saksi, para rawi, pengarang kitab yang akan difatwakan atau dibacakan padahal mereka bukan ahlinya.
- Menyebut perbuatan orang-orang yang menampakkan kefasikannya secara terang-terangan, seperti minum khomer (arak) dll.
- Mengumumkan seseorang agar dikenal (mudah di-ketahui) dengan menyebut-kan semisal: ” sifulan yang buta”.
- Membicarakan kafir harby.
Referensi:
1. Tafsir al-Alusiy: XIX/287-288.
2. Ihya’ Ulum Al-Din: II/345-346.
3. Faidl al-Qadir: VI/113.
4. Faidl al-Qadir: I/150-151
Ibarat:
تفسير الألوسي - (ج 19 / ص 287-288)
وقد تجب الغيبة لغرض صحيح شرعي لا يتوصل إليه إلا بها وتنحصر في ستة أسباب .
الأول : التظلم فلمن ظلم أن يشكو لمن يظن له قدرة على إزالة ظلمه أو تخفيفه.
الثاني : الاستعانة على تغيير المنكر بذكره لمن يظن قدرته على إزالته .
الثالث : الاستفتاء فيجوز للمستفتي أن يقول للمفتي : ظلمني فلان بكذا فهل يجوز له أو ما طريق تحصيل حقي أو نحو ذلك والأفضل أن يبهمه .
الرابع : تحذير المسلمين من الشر كجرح الشهود والرواة والمصنفين والمتصدين لإفتاء أو إقراء مع عدم أهلية فتجوز إجماعاً بل تحب ، وكأن يشير وإن لم يستشر على مريد تزوج أو مخالطة لغيره في أمر ديني أو دنيوي ويقتصر على ما يكفي فإن كفى نحو لا يصلح لك فذاك وإن احتاج إلى ذكر عيب ذكره أو عيبين فكذلك وهكذا ولا يجوز الزيادة على ما يكفي ، ومن ذلك أن يعلم من ذي ولاية قادحاً فيها كفسق أو تغفل فيجب ذكر ذلك لمن له قدرة على عزله وتولية غيره الخالي من ذلك أو على نصحه وحثه للاستقامة .
والخامس : أن يتجاهر بفسقه كالمكاسين وشربة الخمر ظاهراً فيجوز ذكرهم بما تجاهروا فيه دون غيره إلا أن يكون له سبب آخر مما مر .
السادس : للتعريف بنحو لقب كالأعور والأعمش. فيجوز وإن أمكن تعريفه بغيره . نعم الأولى ذلك إن سهل ويقصد التعريف لا التنقيص ، وأكثر هذه الستة مجمع عليه ويدل لها من السنة أحاديث صحيحة مذكورة في محلها كالأحاديث الدالة على قبح الغيبة وعظم آثامها وأكثر الناس بها مولعون ويقولون : هي صابون القلوب وأن لها حلاوة كحلاوة التمر وضراوة كضراوة الخمر وهي في الحقيقة كما قال ابن عباس .
-Wallahu A’lam
Ditulis September 26, 2008 - oleh admin, dalam rubrik Bulletin






